APSR IDI Online KlikPDPI
APSR IDI Online KlikPDPI Halaman Admin Forum Umum Facebook Page Twitter Instagram Youtube
Sama-sama Bikin Sesak Napas dan Batuk, Ini Bedanya Gejala Asma dan TBC
PDPI Surakarta, 14 Mar 2018 15:47:06

Asma dan tuberculosis (TBC/ TB) merupakan dua penyakit gangguan pernapasan yang banyak diderita masyarakat Indonesia. Meski memiliki gejala yang sama, yaitu batuk dan sesak napas, nyatanya kedua penyakit ini berbeda. Sayangnya, banyak orang menganggap jika asma dan TBC adalah penyakit yang saling berkaitan satu sama lain. Jika Anda salah satu orang yang masih bingung membedakan gejala asma dan TBC, simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.

Sekilas tentang asma dan TBC

Asma adalah jenis penyakit kronis pada saluran pernapasan yang disebabkan oleh peradangan dan penyempitan saluran napas. Akibatnya, pasokan udara yang mengalir ke paru-paru berkurang sehingga Anda kesulitan bernapas. Asma bukan penyakit menular, melainkan penyakit yang disebabkan oleh faktor keturunan (genetik) dan lingkungan yang bisa memicu gejala asma (seperti penyebab alergi dari debu, bulu bintang, asap rokok, polusi udara, dan lain sebagainya).

Beda dengan asma, TBC adalah penyakit menular yang terjadi saat tubuh terinfeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menyerang dan merusak jaringan tubuh. TBC bisa ditularkan lewat udara yang sudah terkontaminasi saat penderita TBC aktif batuk atau mengeluarkan dahak yang dibuang sembarangan.

TBC paling sering menyerang paru-paru. Akan tetapi penyakit ini juga bisa menyebar ke tulang, kelenjar getah bening, sistem saraf pusat di otak, jantung, dan organ lainnya.

Memahami perbedaan asma dan TBC
Banyaknya masalah kesehatan yang berkaitan dengan paru, membuat banyak orang menilai sama setiap gangguan yang timbul, termasuk penyakit asma dan TBC. Jika Anda salah satunya, berikut ini berbagai perbedaan asma dan TBC yang harus Anda ketahui dan pahami.

Sesak napas
- Pada asma, sesak napas umumnya disertai dengan mengi (suara lirih yang muncul ketika Anda bernapas seperti ngik-ngik). Nah, sesak napas ini muncul ketika melakukan aktivitas yang berlebihan dan akibat terpapar pemicu asma seperti debu.
- Pada TBC, keluhan sesak napas yang muncul merupakan proses penyakit TBC yang meningkatkan produksi lendir. Akibatnya, hal tersebut membuat saluran napas jadi menyempit dan merusak jaringan paru-paru.

Batuk
- Pada asma, batuk seringnya muncul pada malam hari atau pagi hari saat udara dingin.
- Pada orang dengan TBC, batuk terjadi secara terus-terusan atau tidak kunjung berhenti. Orang dengan TBC bahkan bisa memuntahkan lendir hingga darah. Batuk ini umumnya bisa berlangsung selama dua minggu atau lebih.

Perubahan berat badan
- Pada asma, umumnya tidak menyebabkan penurunan berat badan drastis.
- Sedangkan pada TBC, ada gejala penurunan berat badan drastis yang tidak bisa dijelaskan alasannya. Namun, para ahli berpendapat jika penurunan berat badan ini terjadi karena pengaruh obat dan stres yang menyebabkan nafsu makan jadi menurun. Selain penurunan berat badan secara drastis, orang dengan TBC juga sering berkeringat berlebihan tanpa sebab pada malam hari.


Baca juga : Siapa Saja yang Paling Berisiko Tertular TBC?


Organ tubuh yang kena dampaknya

- Penyakit asma hanya menyerang paru saja. Sebenarnya asma tidak merusak paru secara langsung, melainkan hanya membuat saluran udara di paru membengkak karena reaksi alergi terhadap sesuatu. Akibatnya penderita susah bernapas.
- Sedangkan TBC bisa menyerang paru-paru dan bagian organ lain di dalam tubuh. Jadi, tidak hanya jaringan paru saja yang diserang dan dirusak, tulang hingga otak pun bisa terinfeksi bakteri penyebab TBC.

Pengobatannya
- Asma merupakan penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Pengobatan asma hanya bertujuan untuk mengurangi gejala agar saluran pernapasan lebih lega serta mencegah serangan asma kambuh.
- TBC bisa disembuhkan secara total, asal orang dengan TBC mengikuti semua petunjuk dokter dan minum obat sampai habis. Itu sebabnya, pengobatan TBC akan memakan waktu lama. Agar orang dengan TBC bisa sembuh total, diperlukan waktu enam hingga sembilan bulan masa terapi. Hal ini pun tergantung dari tingkat keparahan penyakit TBC yang dialami.

Cara mendiagnosis asma dan TBC
Cara terbaik untuk mendiagnosis asma dan TBC dengan pasti adalah menggunakan tes fungsi paru-paru, pemeriksaan rontgen, CT Scan, riwayat medis (termasuk jenis dan frekuensi gejala), dan pemeriksaan fisik oleh dokter.

Diagnosis asma
Dokter akan melakukan tes fungsi paru yang disebut dengan spirometri. Tes ini dilakukan untuk memeriksa bagaimana paru-paru Anda bekerja dengan berpatokan kepada volume udara yang dapat pasien hembuskan dalam satu detik dan jumlah total udara yang dihembuskan.
Adanya hambatan pada saluran pernapasan yang mengarah kepada asma dapat diketahui dokter setelah membandingkan data yang didapat dengan ukuran yang dianggap sehat seusia pasien.
Tidak hanya itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan status alergi. Ini dilakukan untuk mengetahui apakah gejala-gejala asma yang dirasakan oleh pasien disebabkan oleh alergi atau tidak. Misalnya alergi pada makanan, tungau, debu, serbuk sari, atau gigitan serangga.

Diagnosis TBC
Sedangkan pada TBC Paru, dokter akan melakukan pemeriksaan dahak untuk melihat apakah terdapat bakteri Mycobacterium tuberculosis yang bersifat tahan asam melalui pemeriksaan Bakteri Tahan Asam (BTA). Pemeriksaan lainnya yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan X-Ray dada dan Tubercullin Skin Test, yang digunakan untuk menguji keberadaan TBC laten. Dalam tes ini, sejumlah kecil protein yang mengandung bakteri TBC akan disuntikkan ke kulit di bawah lengan dan kemudian dokter akan memantau reaksi kulit Anda dalam waktu dua sampai tiga hari setelahnya. Ukuran pembengkakan di bagian yang disuntik akan mengindikasikan kemugkinan Anda menderita TBC.
Selain tes kulit, dokter juga akan mengambil sampel darah untuk memeriksa keberadaan bakteri penyebab TBC. Tes HIV juga bisa dilakukan. Untuk TBC pada organ lainnya, dokter akan melakukan pemeriksaan lainnya yang dianggap perlu.

MITRA KERJA
VIDEO
Tutorial Aplikasi ISR
Uploaded on May 11, 2015
World Asthma Day 2018
Uploaded on Apr 30, 2018