APSR IDI Online KlikPDPI
APSR IDI Online KlikPDPI Halaman Admin Forum Umum Facebook Page Twitter Instagram Youtube
Tuberkulosis Paru Bisa Disembuhkan
PP-PDPI, 26 Mar 2018 12:55:42

Jika Anda atau anggota keluarga terserang penyakit Tuberkulosis (TB) paru yang juga dikenal dengan singkatan TBC, jangan takut dan ragu. Karena penyakit ini walau pun bisa berakibat kematian, namun bisa disembuhkan. Demikian dikatakan Dokter Spesialis Paru Rumah Sakit Awal Bros Sudirman dr Herman Darmawan SpP kepada Riau Pos, Jumat (23/3).

‘’Tuberkulosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh kuman mycrobacterium tuberculosis yang menyebabkan kerusakan terutama pada paru, menimbulkan gangguan berupa batuk, sesak napas, bahkan dapat menyebar ke tulang, otak, dan organ lainnya. Bila dibiarkan, kuman ini dapat menggerogoti tubuh dan menyebabkan kematian,’’ ujar dr Herman.

Dijelaskan dr Herman, penyakit ini ditularkan oleh penderita TB aktif yang batuk dan mengeluarkan titik-titik kecil air liur dan terinhalasi oleh orang sehat yang tidak memiliki kekebalan tubuh terhadap penyakit ini. TB termasuk dalam 10 besar penyakit yang menyebabkan kematian di dunia. Data WHO menunjukkan bahwa pada tahun 2014, Indonesia nomor urut kedua setelah India negara dengan kasus baru TB terbanyak di dunia.

TB paling sering menye­rang paru-paru dengan gejala klasik berupa batuk, berat badan turun, tidak nafsu ma­kan, demam, keringat di malam hari, batuk berdarah, nyeri dada, dan lemah. Jenis batuk juga bisa berdahak yang berlangsung selama lebih dari 21 hari. Saat tubuh sehat, sistem kekebalan tubuh dapat memberantas basil TB yang masuk ke dalam tubuh. Tapi, sistem kekebalan tubuh juga terkadang bisa gagal melindungi tubuh.

Basil TB yang gagal diberantas sepenuhnya bisa bersifat tidak aktif untuk beberapa waktu sebelum kemudian menyebabkan gejala-gejala TB ini dikenal sebagai tuberkulosis laten. Sementara basil TB yang sudah berkembang, merusak jaringan paru-paru, dan menimbulkan gejala dikenal dengan istilah tuberkulosis aktif.

Menurut dr Herman, terdapat sejumlah orang yang memiliki risiko penularan TB yang lebih tinggi. Kelompok-kelompok tersebut meliputi: Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti pengidap HIV/AIDS, diabetes, atau orang yang sedang menjalani kemoterapi, orang yang mengalami malnutrisi atau kekurangan gizi, perokok, pecandu narkoba, orang yang sering berhubungan dengan pengidap TB aktif, misalnya petugas medis atau keluarga pengidap.

‘’Apabila tidak diobati, bakteri TB dapat menyebar ke bagian tubuh lain dan berpotensi mengancam jiwa pengidap. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi adalah nyeri tulang punggung, meningitis, kerusakan sendi, gangguan hati, ginjal, atau jantung,’’ sebut dr Herman.

Tidak semua basil TB yang masuk ke tubuh langsung menyebabkan gejala (tuberkulosis aktif). Ada juga kasus di mana basil TB ber­sembunyi tanpa memicu ge­­jala sampai suatu hari be­rubah aktif. Kondisi ini dikenal sebagai tuberkulosis laten. Selain tidak mengalami gejala, pengidap tuberkulosis laten juga tidak menular.


Baca juga : Penyakit TBC Rentan Menular, Lakukan 3 Pencegahan Ini


Diperkirakan sekitar se­per­tiga penduduk dunia mengidap TB laten. Sementara TB yang berkembang, merusak jaringan paru, dan menimbulkan gejala-gejala dalam beberapa pekan setelah terinfeksi dikenal dengan istilah tuberkulosis aktif. TB jenis ini sangat penting diobati karena termasuk penyakit menular.

‘’Jika sudah terserang TB segera berobat ke dokter dan jangan sampai terputus obatnya. Jika menderita TB paru maka pengobatan yang dijalani lebih kurang 6 bulan, sedangkan TB paru dengan penyakit HIV dan diabetes, masa pengobatan yang dilakukan 9 bulan. Jika ada anggota keluarga yang terserang TB sebaiknya seluruh anggota keluarga diperiksa. Selain pengobatan, kami juga rutin memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga serta masyarakat terkait penyakit TB, cara mengatasi dan menghindari penularan,’’ terangnya.

Dijelaskan dr Herman, jika ada warga yang terserang TB agar segera berobat, apalagi pemerintah memiliki program Directly Observed Treatment Short-course (DOTS) termasuk di RS Awal Bros Sudirman Pekanbaru. Di mana DOTS merupakan strategi penanggulangan tuberkulosis di rumah sakit melalui pengobatan jangka pendek dengan pengawasan langsung. DOTS adalah tempat untuk konsultasi pasien TB.

Penanggulangan tuberkulosis merupakan program nasional yang harus dilaksanakan di seluruh Unit Pelayanan Kesehatan (Peskesmas) termasuk rumah sakit. Khusus bagi pelayanan pasien tuberkulosis di rumah sakit dilakukan dengan strategi DOTS.

Hal ini memerlukan pengelolaan yang lebih spesifik, karena diperlukan kedisplinan dalam penerapan semua standar prosedur operasional yang ditetapkan. Fokus utama DOTS adalah penemuan dan penyembuhan pasien, prioritas diberikan kepada pasien TB tipe menular.

Strategi ini akan memutuskan penularan TB dan dengan demikian menurunkan insiden TB di masyarakat. Menemukan dan menyembuhkan pasien merupakan cara terbaik dalam upaya pencegahan penularan TB.

‘’Program DOTS ini gratis, karena itu, jika pasien tidak mampu boleh memilih pengobatan melalui program DOTS,’’ tegasnya.

 

MITRA KERJA
VIDEO
Tutorial Aplikasi ISR
Uploaded on May 11, 2015
World Asthma Day 2018
Uploaded on Apr 30, 2018