APSR IDI Online KlikPDPI
APSR IDI Online KlikPDPI Halaman Admin Forum Umum Facebook Page Twitter Instagram Youtube
Ayo Ketahui Tentang Paru-Paru Popcorn , Penyakit Langka yang Menyerang Organ Pernafasan
PDPI Jatim, 07 Nov 2018 11:12:55

Paru-paru basah, kanker paru, dan pneumonia merupakan beberapa penyakit paru yang mungkin sudah akrab di telinga Anda. Nah, pernahkah Anda mendengar penyakit paru popcorn (popcorn lung) sebelumnya? Dengan nama yang unik ini, mungkin Anda bertanya-tanya apakah penyakit ini ada hubungannya dengan makanan popcorn alias berondong jagung? Baca terus untuk tahu ulasan selengkapnya.

Apa itu paru popcorn?

Bronchiolitis obliterans atau yang lebih familiar dikenal sebagai paru popcorn adalah kondisi ketika saluran udara terkecil dalam paru (bronkiolus) mengalami penyempitan karena adanya luka.

Normalnya, bronkiolus yang merupakan cabang paling kecil dari bronkus bertugas untuk mengendalikan jumlah udara yang keluar masuk saat proses pernapasan berlangsung.

Itu sebabnya, penyakit popcorn lung termasuk keadaan gawat darurat yang bisa berujung pada kesulitan bernapas, akibat tidak adanya pertukaran oksigen dan karbon dioksida dalam paru.

Apa penyebab paru popcorn?

Meski terdengar sedikit aneh, nyatanya nama paru popcorn memang berasal dari bahan kimia diacetyl yang biasa digunakan dalam produksi makanan seperti popcorn, karamel, dan mentega. Pekerja di pabrik popcorn-lah yang pertama kali diketahui sering menghirup bahan kimia diacetyl.

Tidak hanya itu, penggunaan rokok elektrik alias vape adalah alasan lain yang digadang-gadang sebagai penyebab terjadinya paru popcorn, menurut American Lung Association. Lagi-lagi, ini karena kandungan bahan kimia diacetyl yang berperan untuk menambah aroma dalam rokok elektrik.

Selain diaceytil, bahan kimia industri seperti amonia dan klorin; nitrogen oksida atau gas tawa untuk membius pasien; asap logam dari kegiatan konstruksi; serta partikel udara industri yang terlalu sering dihirup juga bisa berakibat pada penyakit paru popcorn.

Dalam kasus yang langka, penyakit ini juga bisa terjadi setelah ada gangguan pada paru ataupun kondisi lain. Misalnya pneumonia, bronkitis, hingga rematik. Orang dengan transplantasi paru juga berisiko mengalami popcorn lung, terutama saat tubuh menolak masuknya organ baru.

Apa gejala yang ditunjukkan dari kondisi ini?

Penyakit paru popcorn ditandai dengan beberapa hal, seperti:

  • Mengi (napas berbunyi lirih seperti ngik-ngik)
  • Batuk kering
  • Sesak napas dan kesulitan bernapas dalam, terutama usai melakukan aktivitas fisik
  • Kelelahan parah
  • Napas tidak teratur
  • Mengalami gangguan kulit, mata, mulut, atau hidung (jika penyebabnya adalah bahan kimia)

Tanda dan gejala tersebut terlihat mirip dengan gejala penyakit paru lainnya sehingga sering kali diabaikan atau bahkan disalahartikan sebagai indikasi penyakit lain. Gejala penyakit popcorn lung umumnya mulai muncul dalam kurun waktu 2-8 minggu setelah terjadi paparan bahan kimia, dan akan tambah parah secara perlahan dalam hitungan minggu atau bulan.

Segera periksakan ke dokter bila Anda mengalami satu atau lebih gejala di atas. Terutama jika gejala tidak kunjung membaik dari waktu ke waktu.

Bagaimana cara mendiagnosis popcorn lung?

Jika Anda mengalami beberapa gejala yang dicurigai sebagai paru popcorn, dokter mungkin akan menyarankan untuk melakukan pemeriksaan CT scan guna mendapatkan gambaran detail mengenai kondisi paru Anda.

Selain itu, bronkoskopi bisa jadi pilihan lain yang efektif untuk mencari tahu adanya masalah dalam paru. Foto rontgen atau X-ray juga bisa dilakukan untuk melengkapi hasil pemeriksaan.

Adakah cara untuk mengobatinya?

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, penyakit popcorn lung merupakan kondisi gawat darurat yang bisa mengakibatkan kerusakan permanen bila tidak segera diobati. Maka itu, penting untuk mengenali tanda dan gejalanya sedini mungkin sehingga bisa mendapatkan perawatan lebih awal, guna memperlambat perkembangan penyakit.

Pengobatan untuk kondisi ini nantinya akan disesuaikan dengan penyebab dan keparahan penyakit. Jika disebabkan oleh paparan bahan kimia berbahaya di suatu lingkungan, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah menjauhkan diri dari lingkungan tersebut.

Selebihnya, dokter mungkin meresepkan obat steroid atau antibiotik untuk membantu melawan peradangan dan infeksi pernapasan karena ulah bakteri. Pemberian obat imunosupresif bertugas untuk memperlambat sistem kekebalan tubuh sehingga melindungi bronkiolus dari kerusakan yang lebih parah. Bila perlu, dokter mungkin juga akan menggunakan oksigen tambahan agar Anda lebih mudah bernapas.

MITRA KERJA
VIDEO
Tutorial Aplikasi ISR
Uploaded on May 11, 2015
World Asthma Day 2018
Uploaded on Apr 30, 2018