APSR IDI Online KlikPDPI
APSR IDI Online KlikPDPI Halaman Admin Forum Umum Facebook Page Twitter Instagram Youtube
Benarkah Penderita TBC Rentan Mengalami Resistensi Obat?
PDPI Sulawesi Selatan & Utara, 06 Des 2018 08:51:55

Dalam kasus seperti penyakit tuberkulosis (TBC), dokter mungkin akan menganjurkan pasiennya untuk minum obat antibiotik dalam jangka waktu panjang. Tak tanggung-tanggung, orang yang sakit TBC bahkan bisa saja diberikan resep obat antibiotik lebih dari satu jenis. Nah, hal inilah yang kemudian menimbulkan pertanyaan, apakah orang yang sakit TBC berisiko tinggi mengalami resistensi antibiotik? Cari tahu jawabannya dalam artikel ini.

Lamanya pengobatan TBC tidak selalu menyebabkan resistensi antibiotik

Pengobatan TBC memakan waktu cukup lama karena sifat infeksinya yang mudah menular dan cukup serius. Nah, inilah yang pada akhirnya memicu kekhawatiran bahwa orang yang sakit TBC rentan mengalami resistensi antibotik. Resistensi antibiotik adalah keadaan di mana bakteri justru beradaptasi dengan obat-obatan dan menjadi makin sulit untuk dibunuh.

Dr. Anis Karuniawati Ph.D., Sp.MK(K) seorang staf pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia angkat bicara tentang masalah ini. Ditemui tim Hello Sehat pada hari Kamis (15/11) di Rumah Sakit Universitas Indonesia, Depok, dr. Anis mengatakan bahwa tidak selalu obat antibiotik yang dikonsumsi dalam jangka panjang dapat menyebabkan bakteri menjadi resisten.

“Diharapkannya sih tidak ya, karena ada alasan lain mengapa suatu obat harus diberikan dalam jangka waktu panjang,” ungkap dr. Anis.

Lebih jauh, dr. Anis menjelaskan bahwa bakteri TBC itu sifatnya berbeda dengan bakteri lainnya. Secara umum, bakteri penyebab TBC membutuhkan waktu sekitar 24 jam untuk menggandakan diri menjadi dua bagian. Perkembangan bakteri yang terhitung cepat ini menjadi salah satu alasan pengobatan TBC harus diberikan jangka panjang.

“Kalau kemudian bakteri TBC menjadi resisten setelah pengobatan, itu penyebabnya bukan karena lamanya pengobatan. Mungkin ada hal lain yang bisa jadi penyebabnya,” tambah dr. Anis Karuniawati Ph.D., Sp.MK(K) yang juga menjabat sebagai Sekretaris Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) dan pengurus pusat Perhimpunan Ahli Mikrobiologi Klinik Indonesia (PMKI).

Kenapa orang yang sakit TBC harus terus minum obat?

Riset membuktikan bahwa bakteri TB baru akan mati total setelah 6 bulan pengobatan sesuai dengan dosis yang dianjurkan dokter.

Pada dua bulan pertama pengobatan, pasien umumnya akan merasa kalau kondisinya sudah membaik. Bahkan, ada pula yang pasien yang mengklaim dirinya sudah tak lagi sakit TBC karena ia tampak bugar. Padahal, bakteri TBC masih hidup dan menetap di dalam tubuhnya. Ya, bakteri yang menetap di dalam tubuh ini umumnya dalam keadaan tidak aktif alias “tertidur”.

Nah, jika Anda lalai minum obat, maka bakteri-bakteri yang “tertidur” ini akan bangun dan semakin menguat sehingga kondisi Anda pun kembali memburuk. Lebih parah lagi, bakteri TBC akan menjadi kebal terhadap obat-obat antibiotik yang sudah Anda minum. Hal inilah yang disebut sebagai resistensi antibiotik.

Biasanya resistensi obat disebabkan karena orang yang sakit TBC tidak minum obat sesuai dengan yang diresepkan dokter, misalnya jadwal minum obat yang berantakan. Inilah yang menyebabkan TBC menjadi sangat sulit untuk diobati sehingga memerlukan waktu yang lebih panjang yaitu minimal 12 bulan, bahkan bisa sampai 24 bulan.

MITRA KERJA
VIDEO
Tutorial Aplikasi ISR
Uploaded on May 11, 2015
World Asthma Day 2018
Uploaded on Apr 30, 2018