APSR IDI Online KlikPDPI
APSR IDI Online KlikPDPI Halaman Admin Forum Umum Facebook Page Twitter Instagram Youtube
Bahaya Rokok Elektrik Bagi Kesehatan Paru
PDPI Lampung & Bengkulu, 08 Okt 2019 14:43:28

Saat ini rokok elektrik marak digunakan di Indonesia baik pada perokok dari kalangan anak muda maupun usia dewasa. Rokok elektrik (e-cigarette) sering dikenal dengan nama vape. Banyak yang beranggapan bahwa rokok elektrik lebih aman dibanding rokok tembakau. Selain itu, rokok elektrik diklaim dapat mengurangi penggunaan rokok tembakau, atau bahkan untuk membantu untuk berhenti merokok.

Rokok elektrik merupakan salah satu jenis penghantar nikotin elektronik. Ada 3 bagian utama rokok  elektrik yaitu baterai, atomizer (bagian yang memanaskan dan menguapkan larutan nikotin) dan cartridge (tabung yang berisi cairan). Rokok elektrik bekerja dengan cara memanaskan cairan yang ada dalam tabung kemudian menghasilkan uap seperti asap yang mengandung berbagai zat kimia. Kandungan utama rokok elektrik antara lain propilen glikol atau gliserin, nikotin dan  penambah rasa. Propilen glikol atau gliserin berfungsi untuk memproduksi uap air. Nikotin ditemukan dalam konsentrasi yang bervariasi, antara 0-100 mg/ml dalam satu rokok elektrik. Penambah rasa, seperti rasa cokelat, vanila, buah-buahan, dan lainnya, sehingga perokok elektrik dapat menikmati sensasi rasa tertentu dalam setiap hisapannya. Kandungan lainnya yaitu tobacco-specific nitrosamine (TSNA), senyawa logam (kromium, nikel, timbal, dan timah), formaldehid, acrolein dan diethylene glycol (DEC).

Resiko kesehatan akibat rokok elektrik secara umum dapat berupa adiksi atau ketagihan nikotin, gangguan pada paru, jantung, otak dan menimbulkan kanker. Pembahasan kali ini difokuskan pada dampaknya terhadap kesehatan paru. Masalah kesehatan paru akibat rokok elektrik berupa iritasi dan peradangan saluran napas, menurunkan fungsi paru, meningkatkan serangan penyakit asma atau PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik), kanker paru, pneumonia lipoid dan bronkiolitis obliterans (popcorn lung). Iritasi dan peradangan saluran napas dapat disebabkan karena menghirup propilen glikol. Kanker paru dapat ditimbulkan oleh paparan formaldehyde, nitrosamine, DEC yang bersifat karsinogen. Karsinogen artinya zat yang memicu terjadinya kanker. Kanker paru termasuk kanker yang cepat mengalami perburukan dan angka kematiannya sangat tinggi. Bronkiolitis obliterans adalah penyakit peradangan dan penyumbatan pada saluran napas terkecil (bronkiolus). Kerusakannya bersifat permanen, timbul akibat paparan diacetyl yang merupakan salah satu komponen penambah rasa pada rokok elektrik. Pneumonia lipoid yaitu radang paru yang timbul karena adanya lemak di paru. Hal ini terjadi karena paparan kandungan gliserin berbasis minyak dalam rokok elektrik. Laporan CDC (Centers for Disease Control dan Prevention) pada bulan September tahun 2019, di Amerika Serikat didapatkan 805 kasus cedera paru (lung injury) yang berhubungan dengan penggunaan rokok elektrik dan 12 kasus diantaranya meninggal dunia.

Dengan demikian, klaim bahwa rokok elektrik lebih aman itu tidak benar. Persamaan rokok tembakau dengan rokok elektrik adalah sama-sama mengandung nikotin, karsinogen dan bahan toksik lainnya sehingga dapat  menimbulkan adiksi serta berbahaya untuk kesehatan. Tidak ada bukti yang konsisten bahwa rokok elektrik dapat membantu seseorang berhenti merokok. Uap rokok elektrik juga berbahaya untuk orang-orang di sekitarnya jika terhirup karena berisiko menimbulkan masalah kesehatan seperti di atas.

Ayo hindari penggunaaan rokok elektrik sekarang juga dan mulai hidup sehat tanpa merokok. Jika memerlukan bantuan untuk berhenti merokok segera menghubungi dokter spesialis paru atau melalui layanan konseling berhenti merokok Kementerian Kesehatan RI melalui telepon tidak berbayar yang dinamakan Quit Line dengan nomor 0-800-177-6565.

MITRA KERJA
VIDEO
Tutorial Aplikasi ISR
Uploaded on May 11, 2015
World Asthma Day 2018
Uploaded on Apr 30, 2018