APSR IDI Online KlikPDPI
APSR IDI Online KlikPDPI Halaman Admin Forum Umum Facebook Page Twitter Instagram Youtube
Waspada, Virus Korona Bisa Bersembunyi di Jaringan Terdalam Paru-Paru
PP-PDPI, 18 Mei 2020 16:47:43

Sejumlah negara melaporkan adanya beberapa pasien yang sudah sembuh dan boleh pulang tetapi beberapa hari kemudian ternyata positif Covid-19 lagi. Kasus itu ditemukan di Tiongkok dan Korea Selatan. Ternyata itu karena karakter virus Korona jenis baru yang bandel dan jahat, bisa bersembunyi di lubuk jaringan terdalam paru-paru.

Sebuah studi di Tiongkok melaporkan pasien Covid-19 yang dipulangkan dari rumah sakit masih bisa membawa virus yang berada di jaringan terdalam di dalam paru-paru mereka. Dan itu tidak terdeteksi oleh metode pengujian konvensional.

Penemuan itu diterbitkan dalam sebuah makalah di jurnal peer-review Cell Research pada Selasa (28/4). Sehingga penelitian tersebut dapat menjelaskan mengapa semakin banyak pasien yang pulih tapi positif lagi.

“Pekerjaan kami memberikan bukti patologis pertama untuk virus residu (sisa) di paru-paru pasien setelah tiga kali dites berturut-turut,” kata para peneliti, yang dipimpin oleh Dr Bian Xiuwu dari Universitas Kedokteran Angkatan Darat di Chongqing, Tiongkok barat daya seperti dilansir dari AsiaOne, Kamis (30/4).

“Harus ada perbaikan pedoman klinis untuk penahanan virus dan manajemen penyakit”, sebut Dr Bian.

Penelitian ini didasarkan pada pemeriksaan postmortem (usai perawatan) dari seorang pasien perempuan 78 tahun yang meninggal setelah terinfeksi virus Korona. Dia dirawat di Rumah Sakit Pusat Tiga Ngarai di Chongqing pada 27 Januari. Dia dinyatakan positif Covid-19.

Setelah menerima pengobatan antivirus, dia dianggap siap untuk pulang pada 13 Februari. Hasil swab-nya pun sudah negatif dalam tiga kali pengujian berdasarkan sampel dari belakang hidung dan tenggorokannya.

Kondisinya membaik secara signifikan, didukung oleh CT scan. Namun, sehari kemudian, dia menderita serangan jantung dan meninggal.

“Kasus ini menunjukkan ada kebutuhan mendesak untuk memahami patogenesis infeksi Sars-CoV-2”, ungkap Dr Bian dan rekannya.

Komunitas medis belum memastikan bagaimana virus ini dapat mempengaruhi tubuh pasien yang pulih. Pemeriksaan usai perawatan (Postmortem) perempuan itu tidak menemukan jejak Coronavirus di hati, jantung, usus, kulit, atau sumsum tulangnya.

Hanya saja, para peneliti menemukan strain virus yang lengkap atau utuh dalam jaringan di paru-parunya bagian terdalam. Peneliti menempatkan sampel jaringan di bawah mikroskop elektron untuk mengonfirmasi keberadaan virus Korona yang diselimuti cangkang mirip mahkota.

Strain yang tersembunyi tidak menyebabkan gejala yang jelas. Tetapi tidak adanya virus di seluruh tubuh membuat deteksi atau pengujian menjadi sulit. Sebab metode pengujian tidak mengambil sampel dari lokasi terdalam di paru-paru.

Tim dari Dr Bian menyarankan harus ada upaya pembilasan paru-paru pasien sebelum mereka keluar dari rumah sakit, untuk deteksi yang lebih akurat dari jenis virus yang tersembunyi. Metode itu dikenal sebagai Lavage Bronchoalveolar. Metode itu dengan memasukkan cairan ke paru-paru melalui mulut pasien. Memang, prosedur diagnostik semacam itu lebih kompleks, memakan waktu dan mahal daripada swab hidung atau usap oral.

“Ini tidak realistis. Pasien akan menderita terlalu banyak, dan tidak ada jaminan untuk akurasi 100 persen,” kata dokter di Beijing yang tak disebutkan namanya.

Lebih dari 160 pasien yang pulih di Korea Selatan positif untuk kedua kalinya, menurut otoritas kesehatan setempat awal bulan ini. Kasus serupa dilaporkan di Tiongkok, Makau, Hongkong, Taiwan, Vietnam, dan Filipina.

Bahkan, beberapa tes kembali positif selama 70 hari setelah orang tersebut pertama kali dipulangkan. Di Jepang, seorang penumpang kapal pesiar berusia lebih dari 70 tahun dipulangkan awal Maret sebelum dirawat di rumah lagi 10 hari kemudian karena kembali mengalami demam.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sedang menyelidiki mengapa beberapa pasien yang sembuh bisa dinyatakan positif lagi. Ketika semakin banyak orang pulih dari infeksi, fenomena ini dapat memengaruhi kebijakan pengendalian penyakit dan pengembangan vaksin.

Analisis awal hal itu diakibatkan beberapa test kit dapat membuahkan hasil negatif palsu dengan terlalu sedikit virus dalam sampel. Kontaminasi yang tidak disengaja juga dapat menghasilkan positif palsu.

Sebuah tim peneliti di Tiongkok bulan lalu menemukan bahwa beberapa pasien terutama orang muda, memiliki terlalu sedikit antibodi setelah pemulihan. Itu berarti mereka dapat terinfeksi lagi atau tidak mampu menekan sisa virus yang ada dalam tubuh mereka. Sekitar 14 persen dari pasien yang tampaknya pulih dalam sebuah studi di Guangzhou, pada Februari dirawat di rumah sakit lagi setelah hasil tes mereka kembali positif.

MITRA KERJA
VIDEO
Tutorial Aplikasi ISR
Uploaded on May 11, 2015
World Asthma Day 2018
Uploaded on Apr 30, 2018