APSR IDI Online KlikPDPI
APSR IDI Online KlikPDPI Halaman Admin Forum Umum Facebook Page Twitter Instagram Youtube
Covid-19 Masih Panjang, Indonesia Kekurangan 1.294 Dokter Paru
PDPI Lampung & Bengkulu, 20 Jul 2020 16:42:47

Di tengah pandemi Covid-19, jumlah dokter paru di Indonesia masih terbatas. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) mencatat saat ini dokter paru di Indonesia berjumlah 1.206 orang. Idealnya Indonesia memiliki minimal 2.500 dokter paru. Dengan kata lain saat ini kekurangan 1.294 dokter paru.

Di tengah pandemi Covid-19 saat ini, kebutuhan akan tenaga kesehatan khususnya dokter paru menjadi meningkat. Makin bertambah banyaknya jumlah orang yang terinfeksi virus juga menjadi tantangan berat buat tenaga medis ini.

Ketika masyarakat diminta untuk menjaga jarak, dokter paru justru dekat dengan pasien yang terinfeksi. Kebutuhan akan dokter paru ke depan masih cukup tinggi, mengingat pandemi ini diperkirakan masih berlangsung panjang, dan belum lagi wabah penyakit lainnya yang berhubungan dengan respirasi kerap kali muncul.

Peran dokter paru tentu sangat dibutuhkan. Sayangnya jumlah dokter paru di Indonesia masih terbatas. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) mencatat saat ini dokter paru di Indonesia berjumlah 1.206 orang.

Jumlah ini belum sebanding dengan jumlah penduduk Indonesia yang saat ini sekitar 250 jutaan jiwa. Kalau berbasis pada jumlah penduduk, maka rasionya adalah 1 dokter paru untuk 100.000 penduduk.

Rasio saat ini belum ideal, karena 1 dokter paru masih melayani hampir 200.000 penduduk. Jadi idealnya Indonesia memiliki minimal 2.500 dokter paru. Dengan kata lain saat ini kekurangan 1.294 dokter paru.

"Ini jadi PR bersama, dan kita butuh dukungan dari pemerintah bagaimana dokter dokter paru bisa ditambah untuk menghadapi tantangan ke depan," kata Ketua Umum PDPI, dr Agus Dwi Susanto dalam sebuah diskusi virtual, Selasa (8/9/2020).

Sejak awal virus SARS Cov-2 penyebab Covid-19 ini muncul di Wuhan pada Desember 2019, PDPI yang pertama kali mengingatkan pemerintah dan masyarakat bahwa virus ini akan jadi masalah kesehatan di Indonesia. Dan dokter parulah yang pertama kali berjibaku di garda terdepan yaitu di rumah sakit sejak awal virus ini masuk ke Indonesia.

Dari ratusan dokter yang positif terinfeksi Covid-19, sebanyak 50 di antaranya adalah dokter paru, dan tiga orang telah wafat. Satu dokter paru wafat sama dengan ribuan pasien kehilangan kesempatan untuk dirawat dan disembuhkan.

Oleh karena itu, perlindungan terhadap tenaga medis dari risiko tinggi terpapar virus tidak bisa diabaikan. Bukan tidak mungkin jumlah dokter paru tidak akan cukup menangani pasien Covid-19 ketika penambahan kasus positif semakin banyak.

Dokter Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi (Paru) dari PDPI, Erlina Burhan, mengatakan, secara kuantitas jumlah dokter paru cukup banyak, meski secara rasio belum ideal dengan jumlah penduduk. Masalahnya, dengan jumlah yang masih terbatas ini pun terjadi maldistribusi, di mana sebagian besar berada di kota besar atau minimal di ibu kota provinsi.

Ada beberapa provinsi dengan jumlah dokter paru banyak, tetapi jumlah kasus positif juga banyak, seperti Jawa Timur, dan DKI Jakarta. Adapula provinsi memiliki dokter paru sedkit, tapi jumlah kasusnya banyak. Sebaliknya ada provinsi yang jumlah dokter paru sedikit, tetapi jumlah kasus juga sedikit.

Di Aceh, misalnya, ada 34 dokter paru melayani 2.042 kasus, Sumatera Utara 102 dokter paru melayani 7725 kasus, Sumatera Barat 51 dokter paru melayani lebih dari 2000 kasus, dan bahkan Sumatera Selatan hanya 11 dokter paru melayani 4000 lebih kasus. Di DKI Jakarta ada 187 dokter paru melayani 47.000 lebih kasus.

"Dari 187 dokter paru di Jakarta ini tidak semuanya terjun ke rumah sakit untuk menangani pasien, karena faktor usia dan sebagian kecil tidak lagi praktik karena memiliki kegiatan lain," kata Erlina.

Di Jawa Barat ada 130 dokter paru melayani lebih dari 12.000 kasus, Jawa Tengah 90 dokter paru melayani lebih dari 15.000 kasus, Jawa Timur 213 dokter paru melayani 35.000 kasus lebih, Banten 49 dokter paru 3.000 lebih kasus.

Di Yogyakarta ada 16 dokter paru untuk 1.500 lebih kasus, di Bali 15 dokter paru untuk 6.000 kasus lebih, di Kalimantan Barat 11 dokter untuk 7.000 kasus, Nusa Tenggara Barat (NTB) 11 dokter untuk 2.009 kasus lebih.

Nusa Tenggara Timur (NTT) hanya ada 5 dokter paru. Sulawesi Utara hanya 4 dokter 4.000 kasus. Sulawesi Tenggara 5 orang untuk 1.000 kasus. Kalimantan Utara hanya punya 5 dokter paru. Maluku Utara hanya 2, Maluku 5, Papua Barat 2, Papua 5. Sulawesi Barat bahkan hanya ada 1 dokter paru.

Sedangkan untuk di rumah sakit rujukan Covid-19, ketersediaan dokter parunya, antara lain RSUP Persahabatan memiliki 20 dokter paru yang aktif merawat pasien dengan 208 tempat tidur pasien . RSPI Sulianti Saroso 6 dokter paru dengan 90 tempat tidur, RS Adam Malik ada 10 dokter paru dengan 15 tempat tidur, RSUD Pasar Minggu 5 dokter paru dengan 100 tempat tidur, dan lain lainnya.

Agus Dwi Susanto menambahkan, mengantisipasi terbatasnya dokter paru perlu menambah lulusan dokter paru. Caranya dengan memperbanyak pembukaan program pendidikan dokter paru. Hingga sekarang PDPI sudah siapkan 12 pendidikan dokter paru, tetapi yang sudah menghasilkan lulusan baru tujuh.

Beberapa universitas ternama belum membuka pendidikan dokter paru. Dibutuhkan dukungan pemerintah baik itu Kementerian Kesehatan maupun Kementerian Pendidikan. Karena sejarah sudah menunjukkan bahwa pandemi penyakit di dunia banyak berhubungan dengan respirasi dan pernapasan. Oleh karena itu jumlah dokter paru di Indonesia harus ditingkatkan dengan membuka program studi (prodi) dari rumah sakit pendidikan yang sudah ada.

"Ini perlu komitmen dari pemerintah bagaimana membantu kami dari organisasi profesi yang sudah siap untuk mendukung pembukaan prodi tersebut, tapi kami masih ada sedikit halangan bagaimana membukanya di rumah sakit yang saat ini belum memiliki prodi prodi tersebut," kata Agus.

Untuk strategi jangka pendek, menurut Agus, menambah dokter paru di daerah yang jumlah kasus Covid-19 tinggi dengan memobilisasi dokter paru dari tempat lain dengan jumlah kasus rendah. Kemudian berkoordinasi dengan Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia bahwa untuk penanganan Covid-19 tidak hanya oleh dokter paru, tetapi harus bekerja bersama dengan multidisplin dokter yang lain. Ini akan meringankan beban dokter paru.

MITRA KERJA
VIDEO
Tutorial Aplikasi ISR
Uploaded on May 11, 2015
World Asthma Day 2018
Uploaded on Apr 30, 2018