APSR IDI Online KlikPDPI
APSR IDI Online KlikPDPI Halaman Admin Forum Umum Facebook Page Twitter Instagram Youtube
Ganggu Pernapasan, Ini 6 Penyakit yang Menyerang Paru-Paru
PDPI Sulawesi Selatan & Utara, 16 Mar 2021 22:24:53

Paru-paru menjadi salah satu organ yang berperan penting dalam pernapasan manusia. Jika mengalami sesak napas, batuk terus-menerus, mengi atau napas berbunyi, itu menandakan adanya masalah pada paru-paru. Sama seperti organ lainnya, paru-paru rentan terserang berbagai penyakit.

Berbagai faktor seperti bakteri, virus, hingga polusi udara dapat menyebabkan gangguan paru-paru. Oleh sebab itu, kesehatan paru-paru juga perlu untuk dijaga. Berikut ulasan beberapa penyakit yang bisa menyerang paru-paru. Disimak ya!

1. Asma

Melansir Mayo Clinic, asma merupakan kondisi di mana saluran udara menyempit dan membengkak serta memproduksi lendir berlebih. Berdasarkan data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), diperkirakan ada lebih dari 339 juta orang yang menderita asma di seluruh dunia pada tahun 2016.

Asma  membuat penderitanya kesulitan bernapas, memicu batuk, mengi, sulit tidur, dada sesak atau nyeri, dan sesak napas. Terdapat beberapa faktor pemicu gejala asma, antara lain alergi (misalnya debu, serbuk sari, bulu binatang, udara dingin), infeksi saluran pernapasan, asap dan polusi udara lainnya, obat-obatan tertentu, stres, penyakit GERD.

Asma tidak dapat disembuhkan, tetapi gejalanya bisa dikendalikan dengan pengobatan. Inhaler merupakan alat yang biasa digunakan oleh penderita asma. Obat dihirup dari inhaler melalui mulut. Dalam beberapa kasus juga diperlukan obat-obatan, seperti obat alergi atau perawatan lainnya.

2. Tuberkulosis

Tuberkulosis, sering disingkat TB atau TBC, adalah penyakit lainnya yang menyerang paru-paru. Melansir laman Subdirektorat Tuberkulosis Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, insidensi TB di Indonesia diperkirakan sekitar 845.000 penduduk pada tahun 2018.

TB disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Melansir dari Mayo Clinic, bakteri penyebab TB dapat menyebar dari penderita ke orang lain melalui udara lewat batuk, bersin, berbicara, atau meludah. Seseorang jauh lebih mungkin tertular TB dari penderita yang tinggal atau bekerja bersama.

Terdapat dua jenis infeksi TB :

  • TB laten. Pada kondisi ini, seseorang mengalami infeksi TB, tetapi bakteri tetap berada di dalam tubuh dalam keadaan tidak aktif dan tidak menimbulkan gejala. TB laten tidak menular. Namun, kondisi ini dapat berubah menjadi TB aktif, sehingga pengobatan juga penting diberikan kepada orang dengan TB laten dan untuk membantu mengendalikan penyebaran TB.
  • TB aktif. Kondisi ini membuat seseorang sakit dan dalam banyak kasus bisa menular ke orang lain. Gejala yang ditimbulkan di antaranya batuk yang berlangsung 3 minggu atau lebih, batuk darah, nyeri dada, kelelahan, dan penurunan berat badan.

TB juga dapat memengaruhi bagian lain dari tubuh, termasuk ginjal, tulang belakang, atau otak. Ketika TB terjadi di luar paru-paru, tanda dan gejala yang muncul bervariasi sesuai dengan organ yang terdampak.

Sangat penting untuk menyelesaikan seluruh rangkaian terapi dan minum obat-obatan sesuai dengan resep dokter. Menghentikan pengobatan terlalu dini atau melewatkan dosis dapat membuat bakteri yang masih hidup menjadi kebal terhadap obat tersebut.

3. Pneumonia

Melansir Healthline, pneumonia adalah infeksi yang bisa terjadi pada satu atau kedua paru-paru. Infeksi ini menyebabkan peradangan pada kantung udara yang disebut alveoli. Alveoli terisi cairan atau nanah, sehingga penderitanya sulit bernapas.

Berbagai gejala yang ditimbulkan meliputi batuk yang bisa menghasilkan dahak, demam, berkeringat atau menggigil, sesak napas, nyeri dada, kelelahan, kehilangan nafsu makan, mual atau muntah dan sakit kepala.

Menurut keterangan dari WHO, pneumonia menyebabkan kematian sebanyak lebih dari 808.000 pada anak di bawah usia 5 tahun pada tahun 2017.

Pneumonia bisa disebabkan oleh bakteri, virus, ataupun jamur. Penyakit ini dapat menular dari penderita ke orang lain. Pneumonia yang disebabkan oleh bakteri dan virus bisa menular melalui bersin atau batuk. Seseorang juga bisa tertular pneumonia tipe ini melalui kontak dengan permukaan atau benda yang terkontaminasi bakteri atau virus penyebab pneumonia.

4. Bronkitis

Menurut keterangan dari National Health Service, bronkitis adalah infeksi pada saluran udara utama paru-paru (bronkus) yang menyebabkan iritasi dan peradangan. Dinding saluran udara utama memproduksi lendir untuk menangkap debu dan partikel lainnya yang dapat menyebabkan infeksi.

Sebagian kasus bronkitis terjadi ketika saluran udara tersebut meradang dan teriritasi, sehingga dihasilkan lebih banyak lendir dari biasanya. Tubuh akan mencoba untuk mengeluarkan lendir atau dahak ini melalui batuk.

Terdapat dua tipe bronkitis, yaitu bronkitis akut dan bronkitis kronis.

  • Bronkitis akut, dapat menyerang semua usia, tetapi lebih banyak terjadi pada anak di bawah usia 5 tahun. Kondisi ini lebih sering terjadi di musim dingin dan sering muncul setelah pilek, sakit tenggorokan atau flu. Gejala batuk dan lendir berlebih dapat berlangsung hingga 3 minggu.
  • Bronkitis kronis, termasuk salah satu penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Kondisi ini ditandai batuk produktif yang berlangsung selama 3 bulan dalam setahun dan setidaknya selama 2 tahun berturut-turut. Bronkitis kronis lebih banyak memengaruhi orang dewasa berusia di atas 40 tahun.

Dikutip dari Mayo Clinic, gejala bronkitis meliputi batuk, produksi lendir atau dahak (bisa putih, kuning kehijauan atau hijau), kelelahan, sesak napas, demam serta rasa tidak nyaman pada dada.

Bronkitis akut biasanya disebabkan oleh virus, umumnya virus yang sama dengan penyebab pilek atau flu (influenza). Di sisi lain, penyebab bronkitis kronis paling umum yaitu asap rokok. Polusi udara dan debu atau gas beracun dari lingkungan atau tempat kerja juga bisa berkontribusi pada kondisi ini.

5. Emfisema

Sama seperti bronkitis kronis, emfisema juga termasuk PPOK. Melansir Cleveland Clinic, emfisema adalah kondisi yang melibatkan kerusakan pada dinding kantung udara (alveoli) paru-paru.

Ada sekitar 300 juta alveoli di paru-paru normal. Saat menghirup udara, alveoli meregang dan menarik oksigen masuk. Ketika mengembuskan napas, alveoli mengecil dan mengeluarkan karbon dioksida.

Pada emfisema, alveoli dan jaringan paru-paru rusak. Kerusakan ini menyebabkan obstruksi (penyumbatan) yang memerangkap udara di dalam paru-paru. Selain itu, karena jumlah alveoli lebih sedikit, maka oksigen yang masuk ke aliran darah semakin sedikit.

Pada kebanyakan kasus, merokok menjadi faktor utama yang menyebabkan emfisema. Selain itu, polusi udara, faktor genetik (defisiensi alpha-1 antitrypsin), dan infeksi saluran pernapasan juga berperan dalam menyebabkan emfisema.

Gejala emfisema berkembang secara bertahap. Berbagai gejala yang umum terjadi meliputi batuk, mengi, sesak napas, dada sesak dan peningkatan produksi lendir.

6. Kanker paru-paru

Kanker paru-paru adalah salah satu jenis kanker yang paling mematikan. Dikutip dari laman Yayasan Kanker Indonesia, menurut data Globocan 2018, lebih dari 26 ribu orang di Indonesia meninggal karena kanker paru-paru setiap tahunnya.

Melansir MedlinePlus, kanker paru-paru merupakan kanker yang tumbuh di jaringan paru-paru. Kanker ini sangat berisiko terjadi pada perokok, baik perokok aktif maupun perokok pasif.

Selain itu, beberapa faktor yang meningkatkan risiko kanker paru-paru meliputi riwayat keluarga dengan kanker paru-paru, paparan radon, paparan bahan kimia berbahaya, misalnya asbestos, arsenik, kromium dan lain-lain di tempat kerja, polusi udara, dan terapi radiasi pada area dada.

Terkadang, kanker paru-paru tidak menimbulkan gejala pada stadium awal. Gejala berkembang seiring perkembangan kondisi. Beberapa gejala kanker paru-paru di antaranya ketidaknyamanan atau nyeri dada, batuk yang tidak kunjung sembuh atau memburuk seiring berjalannya waktu, kesulitan bernapas, darah dalam dahak, suara serak, kelelahan, dan penurunan berat badan.

Pola hidup sehat sangat penting untuk mencegah berbagai penyakit paru-paru dan penyakit lainnya. Hindari rokok dan asapnya, polusi, atau faktor lainnya yang bisa merusak sistem pernapasan. Jika ada keluhan pernapasan, segera hubungi dokter untuk mengetahui penyebabnya dan mendapatkan penanganan yang tepat.

MITRA KERJA
VIDEO
Tutorial Aplikasi ISR
Uploaded on May 11, 2015
World Asthma Day 2018
Uploaded on Apr 30, 2018