Perhimpunan Dokter Paru Indonesia - Pneumonia 'The Forgotten Pandemic' yang Pantang Diabaikan
RSS Feed klikPDPI.com twitter PDPI Facebook Page - Kedokteran Paru & Respirologi Forum Respirologi (Umum) Foto Operasional web PDPI Foto Operasional web PDPI
Members
Untitled Document
News
1 2 3 4 5
Mitra Kerja
Video

Tutorial Aplikasi ISR

Bahaya Rokok Elektrik
 
Pneumonia 'The Forgotten Pandemic' yang Pantang Diabaikan





Pneumonia saat ini dijuluki forgotten pandemic atau the forgotten killer of children karena tidak mudah menemukan balita dengan kondisi tersebut.

Umumnya masyarakat menganggap sebagai batuk biasa. Sukar bagi ibu untuk mengetahui anaknya menderita pneumonia kecuali kondisinya telah parah, antara lain ditunjukkan dengan sesak napas berat. Harus diingat bahwa perjalanan penyakit dari batuk menjadi pneumonia berlangsung cepat sehingga seringkali tidak tertolong, jelas Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kementerian Kesehatan Dr. Wiendra Woworuntu M.Kes dalam diskusi media bertema Harapan Baru Eradikasi Pneumonia di Indonesia di Jakarta, baru-baru ini.

Program Kementerian Kesehatan dalam pengendalian pneumonia di Indonesia antara lain dengan penemuan kasus dan tatalaksana kasus pneumonia balita di puskesmas dan jaringannya, dan menggalakkan upaya promotif dan preventif tentang pencegahan dan pengendalian pneumonia termasuk imunisasi.
Kementerian Kesehatan akan melaksanakan demonstrasi program imunisasi pneumonia di tiga kabupaten di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat pada Oktober 2017.

Demonstrasi vaksin pneumokokus rencananya akan dilakukan di Lombok Barat dan Lombok Timur menggunakan vaksin PCV 13. Sasarannya adalah bayi usia 2 bulan,3 bulan dan 12 bulan dengan total jumlah yang menerima vaksinasi sebanyak 39.397 bayi.

Dikatakan Wiendra, demonstrasi program imunisasi pneumonia Oktober mendatang akan dilakukan di tiga kabupaten di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Rencana ini merupakan bagian dari pemberian vaksin baru secara nasional, yaitu vaksin polio inaktif (IPV), rubella (MR), rotavirus, Japanese ensefalitis dan pneumokokus (PCV).

Vaksin memang bukan satu-satunya cara mengurangi kejadian pneumonia. Tetapi imunisasi adalah salah satu upaya yang cukup efektif mengurangi insiden pneumonia. Demonstrasi vaksin pneumokokus rencananya akan dilakukan di Lombok Barat dan Lombok Timur menggunakan vaksin PCV 13.

Program ini merupakan langkah awal sebelum menjadikan vaksin pneumonia sebagai program vaksin nasional. Tahapnya masih sangat panjang di mana setelah dilakukan demonstrasi ini kemudian dilanjutkan pengawasan selama 3 tahun.

Program vasksinasi pneumokokus secara nasional baru bisa dilakukan secara nasional jika sudah ada ketersediaan vaksinnya. Umumnya membutuhkan waktu lama. Dengan pilot project ini tidak dengan serta merta akan menjadi program nasional, ujar Wiendra.

Ketersediaan vaksin menjadi tantangan yang masih dipikirkan pemerintah. Perusahaan vaksin nasional, Biofarma, diharapkan dapat segera akan menyediakan dan memproduksi vaksin pneumokokus. Sementara PCV 13 ini masih menggunakan produk impor dengan akses khusus.

Wiji Johar Santoso dari LSM Mitra Samya di Lombok menyambut baik demonstrasi vaksin pneumonia di Kabupaten Lombok. Saat ini angka kematian bayi di Pulau Lombok sangat tinggi, menyumbang kontribusi terbesar kematian bayi, yaitu mencapai angka 76,73 persen di tahun 2014.
Angka ini merupakan akumulasi dari 5 kabupaten kota di Pulau Lombok dengan insiden tertinggi di Kabupaten Lombok Timur, Lombok Tengah dan Lombok Barat.

Pulau Lombok beberapa kali dijadikan tempat penelitian pneumonia. Di antaranya penelitian oleh Dr. Soewignyo di tahun 1997. Dari 1.200 sampel anak sehat, sebesar 48% terinfeksi kuman Streptococcus pneumonia.

Kemudian hasil peneliti Prof. DR. dr. Sri Rezeki Hadinegoro SpA (K) tahun 2012 ditemukan dari 1200 sampel, terdapat 33% yang terinfeksi S. pneumonia. Penyebab tingginya kasus pneumonia di Kabupaten Lombok di antaranya masalah lingkungan dan perilaku masyarakat. Selain faktor lingkungan yang padat dan kumuh, di Lombok tepatnya di Kekalik, menjadi sentra industri pembuatan tempe dan tahu di mana pembakarannnya menggunakan bahan bakar ban bekas, sehingga asap dan jelaganya menyebar ke mana-mana. Belum lagi tingkat perokok yang tinggi, jelas Wiji.

Perilaku masyarakat yang belum menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) juga menjadi salah satu faktor kasus pneumonia di Pulau Lombok. Kondisi alam di Pulau Lombok yang kering dan berdebu menyebabkan kualitas udara tidak bagus.

Selain itu sebagian besar penduduk NTB, yaitu 70,75 persen tinggal di Pulau Lombok sehingga menciptakan lingkungan yang padat penduduk. Beberapa faktor risiko pneumonia yang penting ditemukan di Pulau Lombok yaitu tinggal di hunian padat, terpapar polusi atau asap rokok, kurang gizi, dan tidak mendapatkan imunisasi lengkap, jelas Wiji.

Harapannya dengan demonstrasi vaksin pneumonia yang dilakukan di Pulau Lombok dapat menyasar target-target potensial sehingga angka pneumonia dapat diturunkan, dibarengi penyadaran masyarakat setempat untuk mempraktikkan PHBS.



http://www.dokterdigital.com/id/news/3237_pneumonia-the-forgotten-pandemic-yang-pantang-diabaikan.html
dokterdigital.com, 16 Maret 2017


PDPI Sumatera Utara. 16/03/17.



Halaman Siap Cetak  Halaman Siap Cetak

Kirimkan Pada Rekan  Kirimkan Pada Rekan
 

Free Web Counters

©2003 Perhimpunan Dokter Paru Indonesia
Privacy Policy  webmaster@klikpdpi.com


 
Intranet PDPI