"
 
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia - Jika TB Paru Kambuh, Waspadai Terkena TB Paru Resisten
 
Link
Free Web Counters
Members
News
Mitra Kerja
Video
Tutorial Aplikasi ISR
Uploaded on May 11, 2015
World Asthma Day 2018
Uploaded on Apr 30, 2018
"
 

 


Jika TB Paru Kambuh, Waspadai Terkena TB Paru Resisten
?
paru malang
i1.wp.com


Menurut dokter spesialis paru RSUP Persahabatan Jakarta, Erlina Burhan, tuberkulosis (TB) bisa disembuhkan dengan menjalani pengobatan dan patuh meminum obat selama enam bulan. Setelah sembuh, dr. Erlina mengimbau agar mantan pasien TB paru untuk menjaga daya tahan tubuh. Hal ini dilakukan agar TB paru tidak kambuh.

"Setelah sembuh dari TB paru, sebaiknya berusaha mempertahankan daya tahan tubuh agar tetap optimal, karna TB ini menyerang imunitas manusia dan sebetulnya jika daya tahan tubuh kita dalam kondisi baik, kita bisa melawannya. Tapi kalau imunitas kita lagi lemah kuman akan berkembang biak dan menimbulkan penyakit," kata dr. Erlina saat ditemui di acara launching aplikasi Sembuh TB bagi pasien TB pada Sabtu (9/12/2017) di Hotel The Park Lane, Jakarta Selatan.

Namun, jika mantan pasien TB paru mengalami penurunan daya tahan tubuh serta gejala-gejala TB, dia mengimbau untuk memeriksakan diri dan mewaspadai kambuhnya penyakit tersebut.

"Kalau ada orang sudah pernah sakit TB kemudian dia merasakan gejala kekambuhan, kita harus curiga jangan-jangan ini TB resisten. Pada TB resisten, kumamnya bermutasi jadi kuman yang kebal dengan obat yang sudah pernah didapatkan sebelumnya," jelas dia.

Untuk memastikan kambuh atau tidaknya TB paru, dr. Erlina mengimbau pasien untuk memastikan apakah kondisi tersebut merupakan kondisi TB resisten atau bukan. " Yang pertama di pastikan dulu apakah ini benar resisten apa tidak. Untuk memastikan, ada pemeriksaannya khusus yaitu tes cepat molekuler, ada juga yang di biak kumannya sehingga didapatkanlah hasil apakah ada kuman dan kumannya apakah masih sensitif dengan obat yang biasa atau sudah resisten," lanjut dia.

Lebih lanjut dr. Erlina mengatakan, kalau hasil pemeriksaan menyatakan bahwa pasien tersebut mengalami TB resisten. Maka sebaiknya langsung menjalani pengobatan dan patuh meminum obat agar segera sembuh kembali.

"Kalau hasil sudah terkonfirmasi mengalami resisten maka pasien akan mendapatkan pengobatan lain yang berbeda dengan obat-obat yang sebelumnya. Contoh obatnya yaitu suntikan kanamicyn, quinolon, ethionamide, cycloserine," kata dokter yang berhijab ini.

Sayangnya, untuk mengobati TB resisten memerlukan waktu lebih lama dari TB paru biasa. Tak hanya itu, efek samping dari obat-obatan tersebut seringkali membuat pasien berhenti berobat di tengah jalan.

"Dan memang itu obat cukup toksis sehingga ada efek samping yang lumayan tidak nyaman buat pasien dan pengobatannya pun lama minimal 20 bulan. Efek sampingnya yang dirasakan biasanya mual, muntah, nyeri otot, gabisa tidur bahkan kadang-kadang menyebabkan gangguan kejiwaan. Walaupun sekarang ada pengobatan rezimen baru atau panduan obat baru yang mempersingkat pengobatan jadi sembilan hingga sebelas bulan tapi tetap saja obat-obatnya cukup keras," jelas dia.

Meski untuk menjalankan pengobatan sampai tuntas membutuhkan kegigihan, namun bisa berhasil mematuhi pengobatan, dr. Erlina mengatakan bahwa pasien bisa kembali sembuh. "Kalau melanjutkan pengobatan bisa sembuh kok, harapan sembuhnya di atas 50 persen. Sayangnya, banyak pasien yang seringkali berhenti minum obat akibat efek sampingnya," kata dia.


Sumber Berita : http://health.liputan6.com/read/...
Sumber Gambar : https://i1.wp.com/farmasetika.com...
health.liputan6.com, 11 Desember 2017



PP-PDPI. 11/12/17.




Halaman Siap Cetak  Halaman Siap Cetak

Kirimkan Pada Rekan  Kirimkan Pada Rekan