Stigma Negatif Hambat Penyembuhan Pasien TBC
Tanggal: 25/01/18
Topik: Umum


Masih banyak penderita TBC yang malu untuk mengakui penyakitnya karena stigma mengenai penderita TBC di masyarakat.

Di Indonesia, TBC adalah penyakit menular yang paling banyak menyebabkan kematian dan menjadi ancaman berbahaya bagi kesehatan masyarakat. Pada 2016, terdapat 274 kasus kematian per hari yang disebabkan oleh TBC, menurut data dari Forum Stop TBC Partnership Indonesia.

Berdasarkan laporan Global Tubercolosis Report WHO, kasus TB mencapai satu juta lebih penderita pada 2016, menjadikan Indonesia sebagai negara dengan kasus TB terbesar kedua di dunia.

"Masih banyak penderita TBC yang malu untuk mengakui penyakitnya karena stigma mengenai penderita TBC di masyarakat. Misalnya, bagi penderita yang bekerja terkadang mereka di approach atau digiring untuk resign," ujar Dr Erlina Burhan, M.Sc.SpP(K) dalam edukasi kesehatan di Kantor Pusat PPTI Jakarta, Selasa, 16 Januari 2018. Stigma negatif tersebut yang pada akhirnya menghambat pengobatan pasien.

Selain mengobati penderita penyakit TBC, salah satu hal yang penting lainnya juga adalah dari segi pencegahan menularnya TBC tersebut.


Baca juga : Cegah Penularan TBC dengan Etika Batuk yang Benar


"Harus ada pencegahan, kalau ada 1 kasus yang dinyatakan positif kita harus tahu dengan siapa saja mereka kontaknya," ujar Erlina.

Proses penyebaran TBC terjadi melalui udara, saat pasien batuk atau bersin kemudian terhirup oleh orang lain bisa menularkan penyakit TBC. Proses penularan terhadap orang lain sangat ditentukan dari banyaknya kuman yang keluar dari pasien.

Oleh karena itu, sangat penting mengetahui etika batuk sehingga dapat mencegah penularan kepada orang lain seperti menggunakan masker atau menutup mulut dengan lengan saat batuk dan bersin.








Artikel ini diambil dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia
http://www.klikpdpi.com

URL (alamat situs web) artikel ini adalah:
http://www.klikpdpi.com/modules.php?name=News&file=article&sid=8287